Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-12-26
Words:
1,901
Chapters:
1/1
Comments:
8
Kudos:
59
Bookmarks:
6
Hits:
633

patah hatinya remaja

Summary:

Sudah sering Juhoon bilang mereka berdua ini tinggal saling confess and you're done. Tapi, kedua anak remaja ini selalu mengelak dengan mengatakan mereka mau fokus ujian masuk universitas.

Juhoon akan percaya, kalau saja Keonho tidak setiap tiga puluh menit sekali mengecek keadaan Seonghyeon yang berada di UKS ketika pingsan setelah ujian praktik lari. Juhoon juga tidak akan skeptis, kalau Seonghyeon tidak ribut setiap Senin pagi untuk diam-diam keluar kelas untuk ke kantin membelikan minuman untuk Keonho setelah dihukum lari lima putaran.

Sungguh, Juhoon sebenarnya tidak mau peduli.

Notes:

inilah kontribusiku yg telat merayakan 2112 kemaren :< JUJUR awalnya aku mau nulis yg gemes teenage love, tp keinget masa-masa agit tuh unforgettable bgt... so here i am untuk warga keonhyeon!!! selamat 2112 peeps :b

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Baju Keonho sudah berantakan tidak berbentuk, rambutnya lepek, serta tali sepatu yang lepas adalah perpaduan yang sempurna di Senin pagi. Nafasnya yang terengah sembari tangannya yang berusaha meraih botol minum di samping lapangan menjadi sisa-sisa tenaga yang dia miliki. 

"Ha...us... Hyeon minta tolong donggggg..." ucapnya memohon kepada Seonghyeon yang sudah berdiri memperhatikannya dari putaran pertama Keonho berlari. Seonghyeon hanya bisa mendecak pelan sambil membukakan tutup botol untuknya.

Sebenarnya bukan pemandangan aneh melihat Keonho berlari memutari lapangan tiap Senin pagi dengan beribu alasan yang selalu ia layangkan untuk menghindari omelan Seonghyeon.

Topi gue ketinggalan sumpah...

Ikat pinggang gue kayanya ilang waktu abis jam olahraga kemaren deh

Gue kesiangan terus macet banget tau tadi!!!

Itu hanya sebagian alasan yang sudah didengar Seonghyeon. Namun, dengan sabar juga ia selalu akan menunggu di pinggir lapangan untuk memberikan sebotol minuman isotonik atau air putih sekaligus membukakan tutup botol agar Keonho tidak kesusahan untuk meminumnya.

Tangan lu licin gitu abis keringetan.

Sama halnya dengan Keonho, Seonghyeon juga punya ribuan alibi untuk hal-hal kecil yang selalu ia lakukan untuk Keonho.

Sudah sering Juhoon bilang mereka berdua ini tinggal saling confess and you're done. Tapi, kedua anak remaja ini selalu mengelak dengan mengatakan mereka mau fokus ujian masuk universitas.

Juhoon akan percaya, kalau saja Keonho tidak setiap tiga puluh menit sekali mengecek keadaan Seonghyeon yang berada di UKS ketika pingsan setelah ujian praktik lari. Juhoon juga tidak akan skeptis, kalau Seonghyeon tidak ribut setiap Senin pagi untuk diam-diam keluar kelas untuk ke kantin membelikan minuman untuk Keonho setelah dihukum lari lima putaran.

Sungguh, Juhoon sebenarnya tidak mau peduli.

Namun, sepertinya Dewi Fortuna tidak sedang berpihak kepada Juhoon. Sekarang dia berada di tengah-tengah mereka berdua yang entah sedang berdebat tentang hal yang kalau Juhoon boleh jujur, tidak pentingKarena jelaskan kepada Juhoon kenapa mereka mulai berdebat mengenai mie ayam yang sebaiknya dimakan dengan sambal atau tidak?

"Ngga yaa, Hyeon. Mie ayam itu harus dinikmati rasa otentiknya, kalau ditambahin sambal nanti ngga bisa ngerasain kuahnya yang kunci dari mie ayamnya," Keonho menjelaskan dengan menunjukkan mie ayamnya yang memang tidak diberi saos dan sambal. Juhoon menatapnya sejenak sebelum akhirnya Seonghyeon ikut menginterupsi.

"Alah bilang aja ngga doyan pedes! Ini tuh enak tau pake sambal terus beneran kerasa enaknya ngga hambar dan ngga ngerusak cita rasa kok!!!" jawab Seonghyeon sama berapi-apinya. 

Juhoon hanya ingin makan dengan tenang. 

"Kalau gitu bang Ju sukanya yang mana? Pilih dong," tiba-tiba saja Keonho memaksa Juhoon untuk ikut masuk ke dalam perdebatan mie ayam ini. Juhoon hanya bisa memandang keduanya dan mie ayam bergantian lalu menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.

"Can you guys just leave me out of this? I'm starving..." ujar Juhoon polos.

Keonho dan Seonghyeon hanya saling menatap melihat wajah kasihan Juhoon memutuskan untuk mengakhiri perdebatan. Juhoon bernafas lega karena akhirnya mereka bertiga bisa makan dengan tenang.

Hal-hal kecil seperti ini sudah menjadi rutinitas mereka berdua tanpa disadari. Juhoon sudah menyadari sejak Seonghyeon yang tidak suka keramaian di kantin mulai membuka diri bahkan menyiapkan tempat bahkan memesankan makanan untuk Keonho. Juga pada Keonho yang suka dengan festival musik tapi memilih untuk menemani Seonghyeon masuk ke dalam pameran saat acara ulang tahun sekolah.

Mengenai Juhoon yang sempat memberikan nasihat untuk saling confess itu sebenarnya diberikan secara terpisah. Benar, Juhoon yang menjadi pendengar setia mereka berdua mengenai perasaan aneh yang dirasakan mereka.

Pertama, Keonho hanya menjawab dengan kalimat paling basic. 

"Ngga lah, Bang. Seonghyeon mah sohib banget, lagian kayanya dia ada naksir anak sebelah..."

Juhoon melihat dengan jelas bahwa Keonho mengatakan itu sambil mencebikkan bibirnya dan memilin ujung bajunya. Ia bersumpah air muka Keonho sudah hampir menangis. 

Berbeda dengan reaksi Keonho, ketika Juhoon memberikan saran yang serupa Seonghyeon menjawabnya dengan nada bingung.

"Emang ngga aneh ya bang? Kayanya bang Ju yang aneh ih, temenan tuh emang kaya gini."

Makin bingung Juhoon dibuatnya.

Mereka berdua ini polos atau emang bodoh sih?

Awalnya Juhoon merasa kesal dan gemas dalam waktu bersamaan. Namun, itu dua tahun yang lalu ketika mereka berdua masih berada di bangku kelas sepuluh. Sekarang mereka sudah menginjak kelas dua belas.

Dan bagaimana hubungan keduanya?

Ironis, tapi masih sama saja.

Juhoon kadang menghela nafas lelah melihat keduanya. Ingin sekali rasanya ia dudukkan mereka dan memaksanya untuk saling jujur. Tapi, apa boleh buat ketika mereka hanya sama-sama takut.

Seperti bom waktu yang lama-lama meledak, Juhoon dibuat terkejut ketika suatu malam menuju dini hari Seonghyeon mengetuk pintu rumahnya dengan wajah yang merah dan matanya yang sembab. 

"Bang Ju..." panggil Seonghyeon pelan sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya untuk menghindari tatapan Juhoon.

"Keonho... dia masa mau kuliah di Melbourne... aku ngga dikasih tau..." jelas Seonghyeon susah payah dengan nafas yang tersengal terjeda dengan tangisannya.

Juhoon yang berusaha menyusun dan memahami kalimat Seonghyeon akhirnya maju memeluk tubuh kecil yang bergetar.

Dua minggu lalu Keonho menanyakan pendapat Juhoon mengenai hal ini dan sudah ia jelaskan Seonghyeon berhak tahu.

Nasi sudah jadi bubur. Keonho tidak memberi tahu Seonghyeon dan sekarang Seonghyeon tahu saat Acceptance Letter sudah diterima Keonho.

Juhoon bisa simpulkan mereka sempat berdebat sebelum pecah tangisan Seonghyeon. Ia tepuk pelan punggung Seonghyeon untuk menenangkan tangisannya sembari mengatakan semua akan baik-baik saja berulang-ulang seperti mantra.

Setelah berada di kamar Juhoon, nada dering berbunyi bergantian melalui handphone Juhoon dan Seonghyeon. Juhoon menggigit bibir bawahnya pelan berusaha untuk menjadi penengah dalam masalah ini.

Tidak lama ada ketukan pintu yang terdengar panik tidak sabar. Seonghyeon memegang ujung jari Juhoon untuk menghentikannya membuka pintu. Namun, dengan tentang Juhoon mengelus lembut kedua tangannya dan tersenyum tipis menenangkan. 

Juhoon keluar untuk menemui Keonho yang terlihat panik sambil menggigit ujung jarinya. Melihat pintu terbuka membuatnya mengangkat wajahnya dan dalam sekejap bisa Juhoon lihat ekspresi kecewa karena menemui bukan Seonghyeon yang menemuinya.

"Hey, duduk dulu sini," tawar Juhoon pelan.

"Bang beneran gue udah mau ngasih tahu kok... Let me talk to him..." pinta Keonho.

Dengan berat hati Juhoon menggelengkan kepalanya karena mengingat pesan Seonghyeon sebelum menemui Keonho.

"Gue juga ngga ada hak di sini, tapi let's give him some space ya?" Juhoon menjelaskan dengan lembut.

Wajah Keonho berubah masam dan matanya berair yang dengan cepat ia usap dengan punggung tangannya.

Keonho tersenyum tipis dengan cepat, "Maaf ya bang bikin repot."

Juhoon melihatnya dengan iba yang selanjutnya menepuk pelan punggung Keonho. Tidak tega melihat Keonho seperti ini namun akhirnya Keonho pamit. 

Di kamar Juhoon mendengar isakan yang semakin pelan dan Seonghyeon yang berusaha meredamnya dengan menyembunyikan wajahnya di bantal. Juhoon menutup pintu kamar dengan pelan dan memberikan Seonghyeon ruang.

Sudah seminggu sejak terakhir perdebatan mereka berlangsung dan tidak ada kemajuan mengenai hubungan keduanya. Seonghyeon yang berangkat pagi buta dan Keonho yang datang di kelas mendekati bel berbunyi menjadi pemandangan yang familiar untuk dilihat. Teman-teman sekelasnya tidak ada yang bertanya namun semuanya paham.

Seonghyeon pergi ke kantin dan pulang lebih awal tanpa menoleh sedikitpun ke bangku belakang tempat Keonho duduk. Setiap keberanian Keonho mulai terkumpul, nyalinya menciut mengetahui Seonghyeon bahkan enggan untuk menatapnya lebih dari dua detik. 

Hari demi hari berlalu mendekati hari keberangkatan Keonho dan Seonghyeon masih tidak bisa untuk diajak berbicara. Keduanya semakin sibuk dengan agenda masing-masing. Seonghyeon memiliki jadwal les yang semakin padat mendekati hari ujian masuk universitas dan Keonho sibuk dengan persiapannya berangkat ke Melbourne.

Keonho yang hanya berani menatap dari belakang tempat duduknya dan Seonghyeon yang masih senantiasa membawa sebotol minuman di senin pagi tanpa ia sadari. Semuanya berjalan semakin berat sedangkan waktu serasa berjalan semakin cepat. 

Upacara kelulusan sudah di depan mata yang sekaligus menjadi harapan terakhir bagi keduanya. 

Seonghyeon yang sengaja berdiri di ujung ruangan untuk merapikan jasnya tiba-tiba mendengar suara yang tidak asing mengaduh, "Eh, aduh. Maaf banget gue buru-buru."

Begitu mendongak didapati Keonho yang sedang membersihkan noda pada kemejanya. Seonghyeon yang ikut memegang dahinya yang baru saja terbentur dengan sigap ikut memundurkan diri memberi jarak.

Keduanya berdiam selama beberapa detik hingga akhirnya Seonghyeon memecah keheningan.

Seonghyeon berdeham pelan dan berusaha menghindari tatapan Keonho. 

Detik selanjutnya Keonho dengan sigap menangkap pergelangan Seonghyeon yang membuatnya berhadapan dengan jarak satu jengkal dan dapat merasakan nafas satu sama lain berada tepat di depan wajah.

Bola mata Seonghyeon bergetar pun dengan debaran di jantungnya yang semakin keras membuatnya merasa Keonho dapat mendengarnya dengan jelas.

"Jangan kabur," tegas Keonho masih tidak mengalihkan pandangannya.

Seonghyeon berusaha melepaskan diri namun kakinya seperti menolak untuk berpindah tempat.

Keonho kemudian memimpin jalan dan membawa Seonghyeon dari aula mencari tempat yang hening.

Suara riuh keramaian makin terdengar jauh dan ketika mereka sudah sampai Keonho perlahan melepaskan genggamannya. Ego Seonghyeon yang tinggi berteriak untuk berbalik dan lari meninggalkan Keonho sendirian.

"Maaf..." lirih Keonho hampir tidak terdengar karena kalah dengan suara degupan jantung Seonghyeon sendiri.

Memantapkan niatnya Keonho kemudian maju selangkah dan menaikkan pandangannya menatap lurus pada Seonghyeon.

"Aku minta maaf ngga bilang dari awal," ucapnya tegas dalam satu tarikan nafas.

Hening.

Seonghyeon sendiri tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Semuanya terlalu rumit untuk dijelaskan. Otaknya tidak bisa memberikan tanggapan. 

Keonho membaca ekspresi Seonghyeon berusaha memahami. Tidak berusaha memaksakan Seonghyeon untuk membalasnya.

"Kapan berangkat?" tanya Seonghyeon singkat sambil pandangannya menatap beberapa anak yang sedang berkumpul mengambil gambar di depan aula.

Keonho yang melihatnya lalu tersenyum tipis, "Minggu depan."

Seonghyeon menoleh cepat pada Keonho setelah mendengar jawabannya.

Akhirnya tatapan mereka bertemu. 

Keonho masih tetap tersenyum, pikir Seonghyeon. Kemudian membuang pandangan dan mendecih pelan. Seonghyeon berusaha menemukan kalimat yang tepat untuk diucapkan.

"Kamu tuh," Seonghyeon berhenti sejenak membuat Keonho kemudian memusatkan seluruh perhatiannya kepada Seonghyeon.

"Emang ngga bisa ya sebelum apa-apa tuh ngomong dulu?" tembak Seonghyeon.

Keonho menutup mata sejenak setelah mendengar suara Seonghyeon yang ikut bergetar. 

Seonghyeon melanjutkan, "Aku ngga pernah marah soal Melbourne. Aku marah karena kaya aku doang di sini yang ngga tahu apapun."

"Bukan gitu, Hyeon. I was scared..." Keonho berusaha menjelaskan.

"Aku ngga tau caranya. I was scared you’d be hurt. Or hate me," jawab Keonho yang menimbulkan banyak tanda tanya untuk Seonghyeon sekarang.

Seonghyeon menghela nafas panjang. Tenggorokan Seonghyeon rasanya tercekat sesak. Air mata sudah di pelupuk namun ia tahan. Seonghyeon mendongakkan kepala ke atas untuk menahannya jatuh.

Seonghyeon memperhatikan tiap pergerakan dengan teliti tanpa ada detail yang tertinggal.

Udara dingin mulai masuk ke kulit. Suara riuh pesta terdengar berdengung berisik di kedua telinga Seonghyeon. 

Keonho hanya bisa menatap semuanya dalam diam. Tanpa sadar ia berusaha melepaskan jas yang ia pakai untuk dilepas untuk Seonghyeon yang terlihat lebih menggigil. Namun, sedetik kemudian terhenti.

Hening yang menusuk telinga. 

"Kayanya timing kita emang ngga pernah bener ya," putus Seonghyeon final sambil memeluk Keonho dengan rengkuhan terhangat yang pernah ia berikan. 

Keonho membalasnya tak kalah erat seakan ini kali terakhir mereka berpelukan. Seonghyeon memeluknya sebagai salam perpisahan mereka berdua.

Keonho gunakan lima detik terakhir untuk memperhatikan tiap garis wajah Seonghyeon. Bibirnya bergetar dengan mata merah yang berusaha menahan air matanya. 

Keduanya perlahan melepaskan pelukan. Keonho yang terakhir memegang ujung jas Seonghyeon seakan menahannya untuk pergi. Seonghyeon menatap lagi sekali, mungkin untuk terakhir kali.

Andaikan aku lebih berani.

Andaikan aku bukan pengecut.

Semua kalimat itu berteriak berulang di kepala Seonghyeon.

Andaikan aku ngga egois.

Andaikan aku lebih mengalah.

Seonghyeon dengan monolog yang menghantuinya. 

Dalam diam dan pelukan mereka yang singkat Seonghyeon sadar. Kepergian Keonho bukanlah hal yang paling menyakitkan di sini. Tapi, keputusannya yang memutuskan hanya untuk diam.

 

Jangan lupakan Juhoon yang menyaksikan semuanya dari jauh. Juhoon sangat ingin membantu. Juhoon mau sekali membuat keduanya saling jujur. 

Tapi, lupakanlah.

Mungkin memang semuanya harus begini adanya. Cuma bisa diterima.

Di tengah dinginnya malam ada mereka berdua yang berusaha melepaskan dan mengikhlaskan. Mungkin bukan malam ini, bukan pula besok. Tapi, mereka yakin suatu saat semuanya akan berlalu dengan lebih mudah.

I hope Melbourne treats you better, Ahn Keonho. 

Notes:

JUJUR ini aku bikinnya ngebut banget jd ga sempet beta reading MOHON MAKLUM kl ada typo atau masi ada yg miss :[
fyi: ini fic tercepat yg aku tulis :3