Actions

Work Header

Peliharaannya Si Kakak Tingkat

Summary:

Haru benar-benar menyukai Noah, kakak tingkatnya, sejak awal mereka bertemu di pelataran kampus!

Menjadi bagian dari hari-hari Noah tentu menjadi salah satu impiannya sejak awal, maka ketika kesempatan untuk menjadi peliharaan itu Noah berikan padanya, Haru tak akan menolak dan tak akan mengakhirinya dalam waktu dekat!

He likes it, a little too much. Meskipun yang ia alami di hidupnya saat ini lebih banyak hukuman ke hukuman atas masalah yang selalu menimpanya.

Notes:

Hi!

ini pertama kalinya nulis nahyuck nih!
selamat baca yaa, tolong tinggalin komen kalian dong pleaseeee

thank youuu and enjoy reading ~~~

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Setiap kali Haru berada di kampus, ia selalu berhati-hati untuk melakukan segala hal. Salah sedikit saja, ia bisa menghadapi hukuman yang tak biasa. Haru tidak mau menjalani hukuman atas kesalahan yang terkadang, tidak dia ketahui apa kesalahannya.

 

“Aw!!” 

 

Bunyi gelas pecah dan pekikan Haru yang baru saja tersiram air panas langsung menyita banyak perhatian mahasiswa lain yang berada di kantin kampus. Beberapa mata yang memperhatikan itu langsung kembali pada kegiatan sebelumnya, kecuali sepasang mata yang selalu memperhatikan pergerakan mereka.

 

“Aduh maaf!” 

 

Perempuan berambut panjang bergelombang dengan lembut menarik tangan Haru yang tak sengaja terkena teh panas yang baru dia beli. Perempuan itu lantas mengelap tangan Haru, mengelus dan meniupnya sambil terus meminta maaf. Haru yang masih meringis membiarkan tangannya disentuh dan ditiup oleh perempuan yang berbuat onar. Ia meringis sebelum menarik tangannya dari genggaman si perempuan.

 

“Maaf kak, aku nggak sengaja, aku belikan dulu obat ya kak?”

 

Haru menggelengkan kepalanya, ia tak mau perempuan ini terlibat dengan dirinya lebih jauh. Setelah mendengarkan kata maaf yang kesekian kalinya dari si perempuan, Haru memutuskan untuk kembali mencari menu makan siangnya. Baru saja ia melangkah, matanya sudah lebih dulu bertatapan dengan mata yang menatapnya begitu tajam. Ludah Haru rasanya sekeras batu ketika ia menelannya. 

 

“Hai… kak?” Haru menyapanya dengan canggung, tangannya yang melambai kecil langsung ia turunkan begitu si kakak Presma menggerakkan kepalanya ke arah pintu keluar. 

 

Haru meringis begitu si Presma berjalan lebih dulu untuk keluar dari area kantin. Haru mengikuti dengan terbirit-birit, berusaha menyamakan langkah Noah yang lebih lebar dan cepat. 

 

“Masuk.” 

 

Pintu mobil yang dibukakan oleh si presma itu langsung dibanting kencang setelah Haru duduk di dalamnya. Layaknya anak kucing yang ketakutan, Haru menciut di kursi penumpang, ia bahkan lupa untuk memakai sabuk pengamannya hingga si presma semakin kesal dan memakaikan sabuk pengamannya dengan kasar.

 

Tidak ada yang bersuara di dalam mobil SUV yang dikendarai Noah siang itu. Bahkan, radio yang biasanya memutarkan lagu pun kini tak bersuara. Haru meremas tali sabuk pengamannya dengan kuat. Ia merasa tak nyaman dengan keheningan ini. Karena semakin hening dan sepi perjalanan ini, semakin bising telinganya merasakan debaran jantungnya sendiri.

 

“Mmm… kak?”

 

Haru coba memanggil si kakak presma. Jemari tangan Noah yang mencengkram setir terlihat mengencang hingga otot-ototnya timbul.

 

“You should just shut your mouth, doll.”

 

Mobil yang Noah bawa akhirnya berhenti, Haru menoleh ke sekelilingnya, ini bukan di tempat tujuan mereka, melainkan di sisi jalan di dalam sebuah perumahan. Haru menoleh bingung, mulutnya baru saja terbuka untuk bertanya.

 

“You’ll regret opening that dirty mouth of yours.”

 

Haru tersentak begitu Noah menjambak rambutnya, tubuhnya ditarik turun, dan wajah Haru kini sudah berhadapan dengan selangkangan si presma. Layaknya pulang ke rumahnya, Haru langsung menghirup selangkangan Noah dengan rakus. Noah bahkan tak perlu menahan wajah adik tingkat peliharaannya ini agar tetap berada di selangkangannya, Haru sudah membiarkan tubuhnya mendekat pada tempatnya mengabdi selama ini.

 

“Use your mouth, doll.”

 

Haru dengan susah payah melepaskan celana Noah dengan giginya, memohon pada tuannya untuk membantunya mengeluarkan penis besarnya dan akhirnya menggunakan mulutnya untuk melayani penis Noah selama mereka dalam perjalanan ke tempat tinggal si presma.

 

Noah menggeram setiap kali merasakan penisnya diremas oleh mulut kecil Haru. Lidah si adik tingkat yang sudah ia pelihara sejak dua tahun lalu sudah begitu lihai untuk melakukan oral dalam kondisi sempit seperti di dalam mobil begini. Noah hanya butuh beberapa kali menekan kepala Haru sampai mentok untuk mendengarkan suara tersedak pelacurnya itu. Ketika rumahnya sudah terlihat di depan mata, barulah Noah hentakkan pinggulnya sambil menekan kepala Haru hingga tubuh kecil itu kelojotan kehabisan oksigen. Cairan putih yang tumpah di mulut peliharaan Noah itu ditelan dengan patuh di sela-sela batuknya. Hidung dan matanya berair, sementara mulutnya sudah belepotan peju ketika akhirnya mereka keluar dari mobil.

 

“Ke halaman belakang, telanjang, berlutut dan tunggu gua buat make badan lo itu, doll.”

 

Haru mengangguk, ia menunduk menyapa beberapa pelayan yang sudah sering melihatnya datang untuk melayani sang tuan. Langkah kakinya terus berjalan menuju halaman belakang, halaman yang cukup luas dengan satu kolam renang, dan satu pendopo kayu. 

 

Haru melepaskan satu persatu pakaiannya, kulitnya terasa terbakar dengan rasa malu setiap kali satu lapisan pakaiannya terlepas. Memang tidak akan ada yang melihatnya telanjang di halaman belakang ini. Di rumah ini, Noah tinggal sendiri tanpa keluarga, dan hanya ditemani tiga pelayan yang membersihkan rumah, halaman, dan dapurnya. Meskipun mereka sering melihat Haru dengan air mani tuannya yang mulai mengering di wajah cantiknya, Noah tak pernah membiarkan para pelayan itu melihat Haru tanpa pakaian. 

 

He just let them know Haru's position as a sex slave, to let them hear the cry and scream from the slave, and to let them face Haru in his worst condition after lots of rounds of having sex. He just wants Haru to feel embarrassed by his position, to let Haru to feel small and not dare to lift his head in front of Noah’s maid. 

 

Ketika Haru sudah melepaskan celana dalamnya dan melipatnya dengan rapi di atas rumput halaman, ia pun berlutut. Tangannya diam di atas kedua pahanya, kepalanya menunduk menatap rumput hijau yang masih agak basah bekas hujan semalam. Noah tak kunjung datang, meskipun keringat Haru sudah mulai bercucuran di bawah sinar matahari yang langsung membakar seluruh tubuhnya yang telanjang bulat. Noah tak kunjung menghampirinya, meskipun Haru sudah mulai merasa pusing dengan panas yang menusuk kepalanya.

 

“Are you sleeping, doll?”

 

Mungkin sudah dua jam Haru berlutut di atas rumput di tengah halaman rumah Noah. Sudah banyak semut yang menggerayangi paha dan kemaluan Haru yang sudah basah hanya karena telanjang bulat. Kepala yang tertunduk itu akhirnya menenggak, ia tersenyum bodoh tanpa menjawab pertanyaan tuannya.

 

“Tolol.” Noah menoyor kepala pelacurnya sebelum berjalan menuju pendopo. Haru merangkak mengikuti. Ia tak punya nyali untuk menggunakan kedua kakinya di hadapan sang tuan. 

 

Noah duduk dengan kaki terbuka lebar, sementara Haru merangkak mendekat hingga berlutut di depan kaki tuannya. Haru terlalu menyukai Noah, mengagumi tuannya dari bawah seperti ini, membuatnya melupakan ketakutan yang dirasakannya sejak perjalanan dari kampus tadi.

 

“I’ve told you so many times to behave, doll. Kenapa kamu ke kampus malah ngelacur? Sekarang kamu mau godain perempuan? You let her touch you, don't you? Seneng kan kamu?” 

 

Haru menggelengkan kepalanya dengan panik, ia menolak tuduhan sang tuan. Mulutnya terus meracau “enggak” sebagai bentuk penolakannya. 

 

“Mana tangan yang tadi dia pegang?”

 

Haru menengadahkan tangan kanannya, menunjukkan tangannya yang memerah bekas tersiram air panas. Ia bahkan lupa pada rasa nyeri di tangannya. 

 

“Maaf kak, aku nggak godain dia. Ini tadi nggak sengaja…” 

 

Ujung bibir Noah terangkat, ia melirik tangan Haru sebelum menarik tangan itu hingga Haru berlutut lebih dekat.

 

“Kalau dia kamu izinin untuk pegang tangan kamu ini. Berarti kalau kakak pukul kedua tangan kamu 20 kali, boleh kan, doll?”

 

Haru menelan ludahnya, matanya yang sudah berair itu menatap tangan dan mata tuannya sebelum mengangguk menjawab pinta sang tuan.

 

“Boleh kok kak.”

 

Noah tersenyum, ia lepaskan ikat pinggang kulit yang ia kenakan, meminta Haru untuk mengambil posisi sedikit lebih jauh, dan melayangkan ikat pinggang itu ke telapak tangan Haru dengan sangat kencang.

 

“Ahh!!!” 

 

Noah tersenyum, Haru mengepalkan kedua tangannya yang terasa perih, dan Noah tetap menunggu Haru kembali memberikan kedua tangannya untuk ia pukul kedua kalinya. 

 

“Kamu kok jadi nggak tau terimakasih gini sih, doll? Lupa ya caranya jadi anak baik?”

 

Haru yang sedikit mulai tertekan dengan situasinya mulai terisak, ia kembali menengadahkan kedua tangannya yang terasa nyeri.

 

“Makasih, kak!”

 

Plak…

 

Haru menangis, tangannya semakin memerah.

 

“Makasih… huhuhuhu”

 

Di tengah isakannya, Haru terus berterimakasih pada tuannya.

 

Haru terlalu bodoh untuk bisa berpikir untuk menghitung pukulan yang ia terima. Sehingga, meskipun Noah sudah memukul tangannya lebih dari dua puluh kali, Haru masih terus memberikan kedua tangannya yang sudah dipenuhi luka. 

 

“Kamu masih mau ngelacur di kampus?” 

 

Haru menggelengkan kepalanya, “Aku nggak ngelacur, kak…” 

 

Suaranya begitu parau di tengah isakannya. Wajahnya basah penuh air mata, dan Noah memilih untuk menarik kepala Haru hingga si submisif melangkah mendekat dengan kedua lututnya.

 

“Masih mau ngelak, atau mau tebus kesalahan kamu, Haruga Andari?” 

 

Dipanggil dengan nama lengkapnya jelas membuat bulu kuduk Haru meremang, tuannya tak pernah memanggilnya dengan nama lengkap jika kesalahannya tak fatal. Sebuah alarm rasanya berdering keras di kepala Haru, ia harus berhati-hati jika tak ingin memantik amarah tuannya. 

 

“Maaf kak, aku salah… aku.. aku mau tebus salahnya aku… maaf…”

 

Noah menyeringai, tangannya mengelus wajah Haru yang sudah dipenuhi keringat dan air mata. 

 

“Ambil semua yang kamu butuhkan dari kamar untuk hukuman kamu hari ini, doll. Jangan kasihani diri kamu sendiri, dan ambil sebanyak-banyaknya alat yang bikin kamu tersiksa. Ngerti ya, sayang?”

 

Haru bisa apa selain mengangguk? Meski ia merasa tak terima, semua titah tuannya adalah keharusan. Haru tak mau dibuang oleh Noah, maka apapun yang Noah inginkan darinya, tentu harus ia berikan. Meski dirinya yang harus terima untuk disiksa oleh tuannya yang cukup keji.

 

Haru merangkak menjauh, meringis setiap kali tangannya yang baru saja dipukuli harus menahan beban tubuhnya selama ia merangkak. Dari rumput, bebatuan, hingga lantai rumah tuannya, Haru terus merangkak, meninggalkan jejak tanah di lantai bersih rumah tuannya hingga ke kamarnya. Kamar yang Noah sediakan untuknya adalah kamar bermain mereka. Lemarinya bukan diisi pakaian santai atau formal, tapi berisikan lingerie dan puluhan mainan seks. 

 

Haru menatap ke sekelilingnya, mengingat-ngingat apa yang tuannya sukai akhir-akhir ini. Haru tidak lagi memikirkan apa yang meringankannya atau apa yang ia sukai untuk hukumannya, dalam kepalanya yang ia bayangkan adalah raut puas Noah setelah memainkannya.

 

Hati Haru sudah berbunga ketika melihat Noah tersenyum saat melihat Haru membawa satu keranjang penuh mainan yang ia bawa dengan menggigit gagang keranjang yang bebannya cukup berat. Mendapatkan elusan di puncak kepala, seperti sebuah hadiah yang menyenangkan hati Haru. Ia melupakan fakta kalau Noah akan menghukumnya tanpa ampun.

 

Haru tak bisa mengelak ketika Noah mulai memakaikan alat-alat yang ia pilih ke tubuhnya yang kotor. Haru ikut mempertanyakan dirinya sendiri ketika Noah mengencangkan tali tambang yang melilit tubuh Haru. Rasanya perih, tapi Haru sendiri yang memutuskan untuk mengambil gulungan tali ini untuk mengikat tubuhnya.

 

“Cantik.” Noah memuji Haru yang sudah tak bisa bergerak. Ikatan tali yang Noah pasang sudah memposisikan Haru bergelantungan di tengah pendopo dengan posisi kaki terbuka menginjak beberapa balok kayu. Kedua tangannya, dari lengan hingga ke ujung jarinya sudah diikat kuat ke kayu pendopo, membuat tubuh si submisif bergelantungan jika kakinya tidak berusaha menginjak balok kayu di bawahnya. 

 

Noah memasangkan sebuah cock ring kecil di ujung penis Haru yang sudah basah. Kedua bola zakarnya juga diikat dengan banyak karet hingga Haru meringis ngilu. Betapa puasnya Noah, ketika ia juga menemukan sebuah besi sounding urethra yang bertekstur dan dapat mengalirkan listrik. 

 

“Hmm, kamu suka tititnya disetrum ya, doll?”

 

Haru ingin memaki dirinya atas tindakan bodohnya sendiri. Ia selalu membenci alat itu, kenapa bisa ia memilih alat itu dengan sukarela?

 

Noah tak perlu menunggu jawaban dari peliharaannya. Dengan puas ia memasukkan alat itu ke lubang kencing Haru, dan mengikatnya dengan karet untuk memastikan alat itu tidak akan bergerak terlepas dari kemaluan si peliharaan. Haru meringis, badannya yang menggelantung mencoba menghindar, namun Noah sudah lebih dulu menahan dengan meremas penisnya hingga Haru menjerit kesakitan. 

 

“Be nice, slut.”

 

Haru mengangguk, ia seharusnya memang tak lagi menghindar, sebab apapun yang ada di dalam keranjang itu, adalah pilihannya sendiri. Meski air mata terus mengalir membasahi pipinya, Haru harusnya menerima semua alat yang Noah pasangkan di tubuhnya.

 

“Nggak ada gunanya kamu digantung di sini kalau memek kamu nggak dipake, kan, sayang?”

 

Haru mengangguk mengiyakan, “Iya kak.” jawabnya ketika Noah terus menatapnya, menunggu konfirmasi verbal dari si submisif yang terus bergerak tak nyaman.

 

Noah mengambil satu dildo yang panjangnya hampir selengan, kepalanya menoleh kanan dan kiri untuk mencari sebuah alat bantu lain. Haru memperhatikan bagaimana tuannya tersenyum ketika meninggalkan pendopo, lalu kembali dengan sebuah tongkat panjang yang sudah menempel dengan dildo karet tersebut. 

 

“Buka mulut kamu, doll.” 

 

Haru menurut, ia biarkan Noah memasukkan dildo panjang itu ke mulutnya, membasahi ujung dildo dengan liur Haru dengan menggauli mulutnya sembarangan. Haru terbatuk, tapi Noah malah menggerakkan dildonya lebih cepat.

 

Dildo itu sudah cukup basah untuk Noah tekan masuk ke lubang anal Haru yang masih kering. Mendengar jeritan Haru ketika lubang analnya ditusuk masuk dildo yang hanya dibasahi oleh liurnya, Noah tertawa. Pada akhirnya ia tarik kembali dildo kering itu keluar, membiarkan lubang anal Haru yang baru ditusuk megap-megap dalam kondisi kering. Noah mengambil satu botol pelumas, menekannya masuk ke dalam anal Haru sebelum menekan botol itu hingga isinya memenuhi lubang Haru. Haru mendesah merasakan dinginnya pelumas yang Noah masukkan ke dalam tubuhnya. 

 

Memastikan lubang peliharaannya sudah penuh, Noah kembali menusukkan dildo ke lubang Haru, kali ini jauh lebih mudah dan licin. Haru mendesah, dan Noah dengan sengaja menarik keluar masuk dildonya untuk mendengarkan desahan si peliharaan. Puas mengerjai, Noah akhirnya terus menekan dildo panjang itu hingga kayu yang menempel dengan dildo itu bisa berdiri tepat di bawah tubuh Haru. 

 

Mata Haru memejam tak nyaman, dildonya masuk terlalu dalam ke tubuhnya, jika kakinya tidak bertumpu pada balok kayu, analnya akan menelan dildo itu hingga ke pangkal, dan Haru harus susah payah terus bertumpu dengan kedua kakinya yang sudah mulai terasa tak nyaman. 

 

“Euhhh… kak noah… asshhhh…”

 

Noah sudah memasangkan semua mainan yang bisa dia pakaikan ke anal dan kemaluan Haru, namun, masih ada beberapa mainan lainnya yang tersisa di keranjang yang Haru bawa. Noah menunduk, mengorek mainan yang tersisa dan tertawa dengan apa-apa saja yang ia temukan di dalamnya.

 

“Emang masokis ya kamu, doll? Look at what you've got, a needle?” 

 

Noah terkekeh membuka satu kantong kulit berisikan puluhan jarum yang ukurannya cukup besar. Noah ingat ia pernah beli jarum ini beberapa bulan lalu, ia berniat untuk bermain dengan tubuh Haru menggunakan jarum-jarum ini. Dulu, ia tak sempat melakukannya, dan kini peliharaannya itu justru mengambil jarum ini untuk dijadikan alat yang akan menghukumnya atas kesalahannya hari ini.

 

Haru tidak bisa memahami dengan baik ucapan Noah, ia masih terlalu sibuk untuk berusaha mengangkat tubuhnya dengan ikatan tangannya, Haru butuh bagian dildo yang masuk ke tubuhnya sedikit berkurang, tapi ia justru semakin kewalahan dengan gesekan dinding anal, prostat, dildo dan pelumas yang mulai muncrat keluar sedikit demi sedikit. 

 

Tak memperdulikan Haru yang hanya fokus pada lubang analnya, Noah memilih untuk kembali berjongkok di depan kaki Haru yang terbuka. Noah ambil satu jarum panjang, matanya memperhatikan wajah si adik tingkat ketika ia menusukkan jarum itu pada kulit berkerut di testis Haru yang sudah ia ikat. Noah tersenyum melihat mata Haru melotot dengan kaki yang langsung refleks terangkat hingga tubuhnya masuk jauh lebih dalam menelan dildo super panjang itu. 

 

“Aaahhh!!! kaakk!!! aaaahhh, eungghh…” Haru menjerit, dan Noah menikmati bagaimana jeritan itu terus berlanjut hingga empat jarum berhasil Noah tusuk ke beberapa bagian di kemaluan Haru, tiga pada bagian kulit berkerut di bola kembarnya, dan satu jarum pada batang penis kecil Haru yang sudah menegang tegak.

 

Tubuh haru gemetaran, kakinya berusaha keras untuk mencari pijakan demi menyelamatkan perutnya yang sudah diisi penuh dengan dildo karet yang terus bergerak setiap kali tubuhnya mengayun dalam gantungan tangannya. Matanya juling, mulutnya menganga dengan racauan desah yang menyedihkan.

 

“Kok nangis, doll? orang-orang bisa salah paham loh, disangkanya kamu nggak suka ngejablay kayak gini, padahal dari jaman maba aja kamu udah godain aku biar pelihara kamu jadi pelacur kaya gini.”

 

“eungghhh…” Haru menjawab Noah dengan desahan dan mata yang memutih. Pinggulnya disentak ke depan, seperti sedang menggauli udara kosong dengan penisnya yang sudah banyak meneteskan pre-cum dan tetesan berwarna merah. 

 

Semakin jauh kewarasan Haru untuk bisa Noah ajak bicara, semakin senang Noah merendahkannya. Ini mungkin sudah mau tahun ketiganya mempermainkan Haru, menelanjangi, melukai, dan memakainya sesuka hati. Sementara Haru, bukannya menjauh, ia malah semakin mendekat pada sumber rasa sakitnya. 

 

“Lets put this here too yaa, doll…” Noah menarik puting Haru hingga si submisif itu meringis, jarinya memilin dan menarik puting Haru yang masih membengkak bekas ia siksa dua hari yang lalu dengan seenaknya, mengabaikan ringisan Haru yang berubah menjadi tangisan. 

 

“Aaahhh!!!!!” 

 

Tubuh yang bergelantung itu kelojotan, Haru terus menghentakkan tubuhnya dalam gantungan di tangannya ketika merasakan sakit yang luar biasa pada dadanya. Noah tersenyum puas setelah menusukkan jarum pada puting Haru hingga menembus menyilang di putingnya yang kini sudah berdarah. 

 

Merah itu menarik senyum Noah lebih lebar, dan seolah tak cukup, ia mengambil satu jarum lagi. Haru sudah menggelengkan kepalanya, mencoba mengayunkan tubuhnya menjauh, merelakan analnya yang kesakitan itu menelan lebih banyak dildo demi menjauh dari tangan tuannya yang mendekati putingnya yang sudah berdarah.

 

“Satu lagi. It will be cute if we put two needles on your pretty red nipple, doll.”

 

Haru menggelengkan kepalanya; masih menangis histeris karena rasa nyeri pada banyak titik di tubuhnya membuatnya kewalahan. Noah tersenyum, ia berjalan mundur dan kembali menyimpan satu jarum yang sudah ia pegang, ke dalam kantung jarumnya.

 

“Should we end this, Haru? Kasian juga badan kamu, pasti sakit, kan?” Jemari Noah menyentuh kulit Haru yang sudah dipenuhi keringat. Tubuh telanjang itu masih bergelantungan dengan suara desah Haru yang terus mengalun setiap kali ia tak sanggup menahan tubuhnya cukup tinggi dengan kedua tangannya. Haru menggelengkan kepalanya, tidak setuju pada ucapan tuannya.

 

“Ngghh… engga…”

 

“Kita juga udah tiga tahun doing all of this, Haru. I like you, your body, your loose hole and your submission as my slave… Tapi kalau kamu udah nggak mau lagi, kita bisa berhenti.”

 

“Nghh… nggakk!! Mau kakk…”

 

Haru menangis, dengan kondisinya yang bergelantung, kini ia bersusah payah untuk kembali menapakkan kaki pada tumpukan balok. Noah hanya menunggu sambil tersenyum, dan ia terkekeh ketika akhirnya Haru membusungkan dadanya.

 

“Mau ditusuk lagi, nggak mau berhenti sama kak Noah… huhuhu please…”

 

Noah masih diam.

 

“Mau jadi pelacur kakak terus… jadi peliharaan!! aaahh huhuhu, mau… kakk… ditusuk…”

 

Noah tak pernah memaksa Haru untuk tetap tinggal. Noah bahkan selalu memberikan jalan keluar untuk Haru ketika ia akan bertindak atau menyakiti Haru dengan berlebihan, seperti hari ini. Tapi, Haru sendiri yang menolak untuk pergi. Haru sendiri yang pada akhirnya terus merangkak masuk ke kubangan penuh siksaan yang Noah ciptakan untuknya.

 

Noah tidak perlu memaksa, karena ia bisa membuat Haru tetap tinggal di sisinya dengan sukarela.

 

“Pentil kamu udah berdarah, maaf ya, tadi kakak paksa kamu ditusuk lagi. I just want to make it more pretty, doll.”

 

Haru menggelengkan kepalanya lebih kencang, ia menangis lebih histeris karena ia tak mau kakak tingkatnya itu mengurungkan keinginannya.

 

“Mau ditusuk… nghhh… kakak… please… ngghh.. tusuk lagi pentilnya…”

 

Noah tersenyum, ia biarkan Haru terus menggoyangkan tubuhnya sendiri, berusaha mendekatkan dadanya pada Noah, meski Haru terus menggeram dan mendesah setiap kali dildo di analnya malah masuk semakin dalam.

 

“Pentil kamu udah berdarah, doll. Emang nggak apa-apa kalau aku tambah jarumnya? Nanti rusak, gimana?”

 

Noah dengan sengaja menyentil puting bengkak Haru, puting kecil yang membengkak dan berdarah itu terlihat menyakitkan, tapi Noah tetap mengerjai puting kecil itu dengan menarik, memilin, dan menggaruknya sampai Haru menjerit.

 

“aaahh! Nggak… ahhh… aaahh… nggak apa-apa!!”

 

Noah bisa apa kalau peliharaannya sendiri yang terus memaksa? Ia ambil satu jarum lagi, ia tarik puting bengkak yang sudah ditusuk satu jarum, dan ia tekan perlahan jarum itu menusuk puting Haru. Noah memperhatikan bagaimana Haru menahan rasa sakitnya, matanya terpejam erat, mulutnya meringis, dan ketika ujung jarum yang Noah pegang kembali menembus putingnya, Haru menjerit. Badannya mengejang kesakitan, dan Haru mendesah ketika kakinya kembali tidak menemukan pijakan hingga dildo panjang itu kembali masuk terlalu dalam.

 

“Kalau gini kan jadi makin cantik, doll.” Noah merapikan rambut basah Haru dengan lembut, memberikan sedikit afeksi pada peliharaannya yang sudah kehilangan fokusnya pada apapun yang ia ucapkan. Mata cantik Haru sudah sayu, matanya tak bisa fokus dan juling berkali-kali setiap prostatnya bergesekan dengan tekstur dildo. Penis kecilnya juga sudah basah. A perfect view in the middle of Noah’s Pendopo. 

 

Noah mengambil mainan lain yang masih ada di dalam keranjang. Ia tersenyum sebelum memasangkan sebuah tabung yang ia pasangkan di puting Haru yang belum Noah sentuh. Tabung itu ia pompa hingga puting kecil itu terlihat memekar karena pompaan yang cukup kuat. Haru meringis, tapi tidak menolak semua rangsangan yang Noah berikan untuknya.

 

“Kamu ngambil tiga dildo itu untuk apa sih, doll?” Noah terkekeh. Satu dildo yang sudah bersarang di anal Haru adalah dildo yang paling panjang. Sementara dua dildo di tangannya ini memiliki panjang yang lebih pendek namun cukup elastis, dan satu dildonya lagi cukup keras dan tebal. 

 

“Kamu nggak berpikir aku bakalan nyisain dildo ini supaya nggak kamu pake, kan, doll?” 

 

Haru tak bisa menjawab, ia sudah tak bisa diajak bicara meski Noah melibatkannya seperti ini. 

 

“Kakak bantuin kamu deh ya untuk hukuman hari ini.”

 

Noah meninggalkan Haru yang sudah hilang kewarasannya itu di Pendopo, ia masuk ke dalam rumahnya. Melihat jejak tanah bekas Haru merangkak ke dalam kamarnya membuat Noah tertawa. Ada ide baru yang muncul untuk ia lakukan pada Haru setelah hukuman ini selesai. He can't wait.

 

Mata Haru juling ketika Noah kembali dengan membawa satu mesin yang ia simpan di belakang tubuh Haru. Noah hanya perlu mendengarkan jeritan submisifnya yang terdengar panik dan kesakitan ketika ia tekan satu dildo lagi ke dalam analnya. Tubuh yang sudah diikat itu tentu tak bisa melawan, ia hanya bisa memberikan respon dengan menjerit ketika lubang analnya dipaksa untuk dimasuki dua dildo ini.

 

“Ngaahh… hhaahh… ss..akiitt…”

 

Noah tersenyum, ia masih memegang satu dildo lagi di tangannya.

 

“Kamu yang ambil, doll. I'm not forcing you, oke?”

 

Sambil tersenyum, Noah memasukkan dildo karet di tangannya ke dalam mulut Haru. Dildo ini tidak sepanjang dildo yang sudah bersarang di anal Haru, tapi cukup panjang untuk masuk hingga ke leher. Gag refleks yang membuat Haru mau muntah itu membuat mulut si peliharaan jadi sangat basah, Noah masih tersenyum, ia mainkan mulut submisifnya sebelum menekan dildonya hingga masuk seutuhnya. 

 

Haru melotot, panik. Noah tersenyum di depannya hingga peliharaannya itu menangis 

 

“Pinter..” Noah puji submisifnya sebelum melilitkan kain di mulut Haru, menahan dildo itu agar tetap masuk seluruhnya di dalam mulut kecil yang terus meneteskan liur. 

 

“Kakak lakban mulutnya gapapa kan, doll?”

 

Haru tak bisa mengangguk ataupun menggelengkan kepalanya dengan dildo yang masuk sampai ke tenggorokannya, ia bahkan harus susah payah untuk bernapas hingga hidungnya mengembang dan mengempis. Noah juga tak perlu menunggu jawaban, ia sudah lebih dulu memasangkan lakban di mulut Haru, melingkari kepalanya hingga 5 kali putaran lakban. 

 

“Perfect!”

 

Noah berjalan mundur, memperhatikan tubuh peliharaannya yang sudah tak karuan. Perut ratanya kini terlihat sedikit menonjol, dan Noah tertawa saat sadar itu adalah dildo kedua yang ia pasangkan dengan sebuah mesin. Ia yakin perut Haru akan semakin menonjol ketika ia menyalakan mesin itu untuk menggaulinya tanpa jeda. Puas memandangi mainannya, Noah mulai memasang beberapa kamera di sekeliling tubuh Haru, dan menyalakan sebuah siaran langsung yang hanya bisa ditonton olehnya. 

 

“Ini hukuman kamu karena berani godain perempuan, kamu harus inget, doll, nggak akan ada perempuan yang mau sama laki-laki kaya kamu, yang gelantungan telanjang demi laki-laki lain kaya kamu gini. Ngerti, ya, sayang?” 

 

Haru menangis, tapi kepalanya berusaha mengangguk sebelum ia menggeram keras ketika Noah menyalakan mesin penggerak dildo di belakang tubuhnya. Geraman itu semakin mengeras ketika Noah ikut menyalakan setrum di penis Haru yang akan memberikan setruman di setiap interval yang berbeda. Tangisannya semakin terdengar ketika Noah dengan sengaja memberikan jarak balok kayu di kaki Haru menjadi lebih lebar, membuatnya harus mengangkang lebih lebar, dan dua dildo di analnya menekan prostatnya lebih dalam. 

 

Tubuh Haru mengejang, penisnya meneteskan peju yang kesulitan untuk keluar. Noah tersenyum puas.

 

“I have something to do. Kamu diem di sini dan pikirin kesalahan kamu, Haru. I'll be back, jangan pingsan, oke?”

 

Noah berjalan pergi, meninggalkan Haru yang terus menatapnya di balik tangisan. 

 

Siang hari menuju sore itu cukup cerah, halaman belakang rumah Noah yang biasanya sunyi dan hanya terdengar hembusan angin yang mengayunkan dedaunan, kini menjadi lebih berisik dengan gaduh yang Haru keluarkan. Tubuh telanjangnya kewalahan menerima rangsangan, lubang analnya mulai memerah dengan cairan pelumas yang terus mengalir keluar dari lubangnya yang kepenuhan. Penisnya sudah merah padam, dengan bola kembarnya yang semakin kencang dan luka tusuk jarum yang mulai mengering. Kepala penisnya pun membengkak, dengan banyak cairan sperma yang keluar sedikit demi sedikit di setiap pelepasan Haru yang tak sepenuhnya bisa keluar dari penisnya. 

 

Laki-laki yang menyerahkan dirinya pada kakak tingkat yang lebih tua satu tahun di atasnya itu masih gelantungan di tengah pendopo, dengan rangsangan ekstrim di tubuhnya membuat otaknya tumpul hingga kini hanya berfungsi layaknya boneka seks bodoh, and that's all he is. Haru hanyalah boneka seks milik lelaki yang paling ia sayangi. 

 

Langit sudah hampir gelap ketika Noah kembali, tapi Haru sudah tidak ada lagi di sana. Ia terlalu terbuai pada nafsunya. Dengan otak tumpulnya yang sudah tidak bisa Noah ajak bicara, Haru hanya bergelantungan dengan pasrah. Kakinya tak lagi menginjak balok, si submisif dengan pasrah membiarkan seluruh bagian penis karet sepanjang setengah meter itu masuk ke tubuhnya. Sementara mesin yang masih menyala kini terlihat hilang timbul di bagian perut bawah Haru. 

 

“Kakak udah lama nggak berenang, kamu temenin kakak di sini ya?” 

 

“Ngghh…” Mata Haru masih juling, dengan mulut yang berusaha susah payah mengeluarkan sebagian penis karet dari mulutnya hingga untaian air liur tidak pernah berhenti turun dari mulut hingga dagunya. 

 

“Titit kamu udah ungu gini, kasian… kakak lepas deh ya biar kamu ngecrot sepuasnya.”

 

Haru menjerit begitu Noah melepaskan ikatan pada testisnya. Matanya memutih ketika besi sounding yang terus menyetrum penisnya dalam beberapa jam ini ditarik keluar. Noah tertawa ketika tubuh Haru langsung gelinjangan dengan suara jerit tertahan yang begitu merdu di telinganya. Pelepasan Haru seperti tak bisa berhenti, penis kecilnya terus memuncratkan pejunya mengotori lantai kayu pendopo. 

 

“Titit kecil kamu bisa ngecrot banyak ya, doll? Tapi jangan mikir peju kamu bisa hamilin perempuan lain, doll. Justru kamu, kamu yang pantes jadi perempuan hamil itu. Ngerti nggak, Haru?” Noah mencengkeram dagu Haru dengan kencang, mengabaikan tangisan dari submissivenya yang terus mengeluarkan liur dari mulutnya yang disumpal begitu dalam. 

 

“Answer me, doll.” 

 

Haru yang sudah setengah sadar itu hanya bisa menggeram ketika dagunya dicengkram lebih kuat. Noah tertawa sebelum meludahi mata Haru yang langsung terpejam. Ia tinggalkan lagi peliharaannya di pendopo setelah menaikkan intensitas mesin yang menggauli lubang anal Haru. Suara jeritan itu mengalun kencang, menemani Noah yang kini menyamankan diri berenang di kolam rumahnya. 

 

As much as Haru’s love for Noah, Noah is also obsessed with his toy, Haru. No one can touch him, not even a single hair of Haru can be touched with others. Hari ini adalah salah satu pembayaran atas kebodohan Haru yang membiarkan seorang perempuan menyentuh tangannya cukup lama. 

 

Noah masih di pinggir kolam renang, memperhatikan Haru yang berkali-kali kelojotan di gantungannya. Noah bisa melihat penis keunguan Haru yang masih bisa memuncratkan pelepasannya ke lantai pendopo. Ia tersenyum sebelum menghampiri Haru yang matanya masih saja juling ke atas. Di lantai pendopo, sudah banyak sekali cairan tubuh Haru yang menggenang, entah itu peju ataupun air liurnya.

 

“Pretty doll.” Puji Noah yang dengan sengaja menekan puting Haru yang sudah membengkak karena dua jarum yang menusuknya. Haru menjerit meskipun ada penis karet di tenggorokannya, setelahnya Haru terbatuk dan memuntahkan banyak air liur dari mulutnya. Noah tertawa.

 

“Capek nggak, doll?”

 

Haru tidak menjawab—tidak bisa. 

 

Noah yang hanya tersenyum itu menghampiri mesin yang masih menekan penis karet besar bertekstur ke dalam perut Haru, ia matikan mesin itu dengan kondisi penis karet itu sedang menekan sangat dalam ke tubuh Haru. Perut ratanya terlihat menonjol karena penis karet itu, dan Noah cukup puas dengan posisi ini, ia biarkan semua rangsangan di tubuh Haru berkurang, termasuk puting yang masih dipompa hingga terlihat mekar pun Noah lepas. 

 

“Kakak mau mandi, seharusnya nanti waktu kakak balik ke sini lagi, kamu udah bisa diajak ngobrol ya, doll?”

 

Haru yang kini hanya bergelantungan dengan dua penis karet masih menusuk tubuhnya, masih kewalahan untuk bisa waras. Di kepala Haru, hanya nafsu yang menguasainya. Ia ingin menyentuh Noah yang berdiri tak jauh darinya. Jari-jari Haru bergerak-gerak, seolah membayangkan bisa menyentuh tubuh tuannya yang bertelanjang dada di depannya. 

 

Noah kembali meninggalkan Haru yang masih tinggi nafsu. Meski malam mulai datang, Haru dibiarkan sendirian di tengah Pendopo. Hanya ada lampu temaram yang menerangi tubuh mengkilapnya. Hanya ada Haru yang bergelantungan telanjang di tengah gelapnya halaman belakang rumah Noah. Angin malam yang bertiup dingin membuat bulu kuduk Haru meremang, kewarasannya susah untuk kembali jika analnya saja masih disumpal dua dildo besar. Tapi mata Haru sudah terus menatap sayu ke arah rumah Noah. Entah berapa lama Noah meninggalkannya, tapi Haru bisa melihat Noah berdiri di balkon lantai dua, sedang menenggak gelas yang mengepul sambil memperhatikannya. Haru mengayun, berusaha menarik perhatian pemiliknya yang masih mengabaikannya. Rasanya Haru mau menangis, karena diabaikan begini justru hukuman paling menyiksa dibandingkan puluhan mainan seks yang ia pakai di tubuhnya. 

 

Noah terus memandangi tubuh telanjang Haru dari balkon kamarnya, peliharaannya itu seperti sedang berusaha menarik perhatian dengan mengayunkan tubuhnya, menggerakkan kakinya, dan menggeram setelahnya karena dildo-dildo di analnya. Noah terkekeh ketika melihat tubuh peliharaannya itu kelojotan, sepertinya baru saja mengotori lantai Pendopo lagi dengan spermanya. 

 

Haru fuck himself by choice, it's not like Noah force him to swing himself on the dildos repeatedly. Haru just an attention seeker whore, and fucked himself and being a slut for a cock is the only thing that he mastered in his life, right? 

 

Mengingat ide yang muncul di kepalanya siang tadi, Noah tersenyum sebelum turun menghampiri pekerja rumahnya. 

 

“Snack sama mangkuk dan peralatan yang saya minta tadi sudah ada, Bi?”

 

Bi Ratna yang diminta menyiapkan apa yang diminta bosnya itu langsung mengangguk dan mengambil barang-barang yang diminta.

 

“Nama si pelacurnya Aden juga sudah ditulis.”

 

Noah tersenyum mendengar Bi Ratna menyebut Haru sebagai ‘si pelacur’, nama yang cocok untuk peliharaannya itu. Ia berterima kasih dan meminta para pekerjanya itu untuk pulang ke rumah masing-masing sebelum Noah menyiapkan apa yang ingin ia berikan pada Haru yang masih ribut bersuara di Pendopo rumahnya.

 

Mata Haru berbinar begitu akhirnya Noah keluar dari pintu rumahnya, tubuhnya bergerak semangat menyambut sang tuan. Haru hanya memandangi wajah Noah, mencoba memastikan perhatian tuannya hanya tertuju pada dirinya, pada tubuhnya yang sudah terasa sangat sakit dari ujung kaki hingga kepala. 

 

“Kakak tau kamu emang terlalu terbiasa untuk ngelacur, Haru. Tapi kalau kamu emang mau ngelacur ke semua orang, kamu harus berhenti jadi pelacur kakak. Kakak gamau punya peliharaan gatel kaya kamu gitu.” 

 

Haru menangis sejadi-jadinya, matanya memerah, kepalanya terus menggeleng tak terima. Haru berusaha bersuara hingga ia tersedak dan kembali memuntahkan banyak liur dari mulutnya. Haru menggoyangkan tubuhnya, tak peduli pada kondisi lubang analnya yang kesakitan karena dua dildo yang kembali keluar masuk dari tubuhnya. 

 

Noah hanya menatap Haru, mendecak dan menggeleng tak puas hingga tangisan dari peliharaannya itu semakin keras menggema.

 

“Kamu masih mau jadi pelacur kakak?”

 

Haru menganggukkan kepalanya. Melupakan dildo yang masih bersarang dimulut hingga tenggorokannya, sampai-sampai pergerakan anggukan kepalanya itu terasa perih hingga ia kembali muntah. Kali ini, bukan hanya mulutnya yang memuntahkan cairan, hidungnya pun terlihat keluar lendir yang cukup banyak karena gag refleks Haru yang cukup jelek.

 

“Kamu masih mau jadi peliharaannya kakak?”

 

Haru kembali mengangguk di sela tangisannya, ia kembali muntah dari mulut dan hidungnya.

 

Noah terkekeh, dengan sengaja ia bersihkan liur di dagu Haru, hanya untuk mengelus pipi Haru dengan liurnya sendiri. Sementara Haru, yang sejak berjam-jam lamanya sudah lapar dengan sentuhan Noah, langsung mengejar tangan Noah untuk terus menyentuh kulitnya. Haru craved Noah’s touch so much he cried.

 

“Kalau gitu mau dong jadi hewannya kakak?”

 

Haru tak perlu menggunakan otak kopongnya itu untuk berpikir, ia langsung menganggukkan kepalanya. Matanya tetap berbinar menatap sang tuan. Apapun yang kak Noahnya inginkan, tentu akan ia lakukan. Apapun itu.

 

“Jadi anjing mau?”

 

Haru mengangguk lagi. Matanya tetap berusaha menatap Noah meski ia terus tersedak kesakitan.

 

“Jadi babi mau juga?”

 

Haru kembali menganggukkan kepalanya. Matanya sudah mengeluarkan air mata saking sakitnya gesekan antara dildo dan tenggorokannya. 

 

Noah tertawa, puas sekali dengan kepatuhan adik tingkatnya yang sangat mencintainya. 

 

“Coba buat suaranya, kakak mau denger suara kamu jadi hewan.”

 

Dengan kondisi mulut yang masih disumpal, membuat suara pasti hanya akan menghasilkan rasa sakit. Apalagi Noah meminta Haru untuk membuat suara hewan, entah itu menggonggong ataupun mengorok layaknya suara babi. Tapi menyenangkan Noah adalah kegiatan yang Haru gemari, sakit sedikit di tenggorokannya, pasti bukan masalah.

 

Noah memperhatikan bagaimana wajah Haru yang sudah kacau itu terlihat menahan sakit begitu ia mencoba untuk menggonggong. Satu kali mencoba, ia memuntahkan liur dari mulut dan hidungnya. Percobaan kedua, suaranya menjadi lebih serak dan batuknya lebih parah. Noah terkekeh begitu Haru masih terus mencoba, abai pada dirinya sendiri yang sudah kesulitan untuk sekadar bernapas.

 

“Pinter. I just hope you will stop being a whore to everyone you see, doll. Just be a mindless toy and my good pet slave, ok?”

 

Haru tersenyum di kondisinya yang sudah jauh dari kata baik. Ia mengangguk. Noah tersenyum, dan akhirnya melepaskan satu persatu mainan yang bersarang di tubuh Haru.

 

Tubuh yang sudah berjam-jam bergelantungan di tengah pendopo itu langsung ambruk ketika Noah melepaskan ikatan tangannya dari langit-langit pendopo. Sakit? Tentu. Tapi Haru sudah terlalu kacau untuk sekedar memproses semua rasa sakitnya. Mulutnya justru membentuk senyuman, matanya terus mencari Noah, bahkan mungkin jika masih bertenaga, Haru akan terus mengejar Noah dengan tubuhnya. 

 

Noah tidak langsung menghampiri tubuh Haru yang tergeletak. Ia justru langsung ke kran air terdekat, menarik selang air, dan membersihkan tubuh Haru dengan air yang menyemprot kencang ke kulit penuh memarnya. Setelahnya, ia selimuti tubuh Haru yang sudah menggigil, ia angkat tubuh ringkih itu ke dalam rumahnya. 

 

“I love you, kakak… I'm a bad slut today… m sorry”

 

Haru masih sempat berbisik dengan sisa suaranya yang hampir tak bisa keluar lagi hanya untuk meminta maaf sebelum tertidur di samping tuannya yang sangat ia sukai. Noah tersenyum, ia biarkan adik tingkat yang sudah terperangkap menjadi penghiburnya selama beberapa tahun terakhir ini tertidur dalam rengkuhannya. Ia ikut tidur setelah memasangkan satu hadiah di leher Haru. He smiled at the sight of his brand new pet. 

 

“I won't be bored to use you for years if you can be everything i want you to be, Haru. My pretty slut.”

 

Noah cukup membubuhkan kecupnya di kening Haru, membiarkan rasa hangat mengukung Haru agar terus berada di radarnya, dan dengan suka rela melayani fantasi dan kegilaannya.

 

Bahkan jika Haru harus menggonggong di pagi harinya setelah ia terbangun dari tidur nyenyaknya, Haru akan melakukannya dengan sukarela. Termasuk menelan makanan dari mangkuk hewan yang Noah simpan di samping kakinya. Haru tidak akan mempertanyakan apa yang ia telan setiap harinya dari mangkuk itu. Apapun yang tersedia, meski rasanya tidak seperti makanan yang layak untuk manusia, Haru akan mengunyah makanannya dengan patuh. Matanya berbinar, dan Noah akan menghadiahinya kesempatan untuk menghirup selangkangan Noah sepanjang hari. Menelan air seni Noah setiap kali tuannya butuh buang air. Haru akan berterima kasih dengan matanya yang berbinar dan bibirnya yang tersenyum bodoh. 

 

Haru terlalu rusak, untuk bisa kembali normal. Haru terlalu cinta pada tuannya yang kini terus terobsesi dengan kepatuhan Haru pada segala kegilaannya.

 

 

 

 

 

 

Notes:

gimanaa? did you all like it?