Actions

Work Header

The Symphony Never Ends (because you're Eichi Tenshouin)

Summary:

Kisah masa kecil seringkali berputar kembali di dalam kepala Eichi kala kesehatan tubuhnya mulai menurun. Ia sangat mencintai peran seorang penghibur, dan kenangan itu seakan membawanya kembali pada tujuannya—kenapa ia berdiri di tempat ini sekarang— sebagai pendiri agensi Star Production dan seorang idol dari sebuah unit nan anggun: fine.

Ia tidak ingin mati sekarang. Setidaknya belum sekarang.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter Text

Sejak kecil, Eichi selalu memimpikan bebungaan merah dan kisah fantasi. Ia tenggelam begitu dalam oleh kisah yang memikatnya kala ia berbaring lemah di atas ranjang dingin rumah sakit. Sosok berambut kemilau biru muda begitu memikat perhatiannya dari layar televisi yang berpendar dalam muramnya ruang rawat inap. Eichi seakan melihat bulan purnama yang penuh dengan kemilau misterius. Wajah cantik itu tersenyum lebar, dengan gestur tubuhnya yang indah dan memikat hati penonton, ia mementaskan sebuah pertunjukan sulap magis yang bercahaya. Ialah inspirasi Eichi, seseorang yang kemudian hari ia ketahui sebagai seorang Hibiki Wataru.

Kisah masa kecil seringkali berputar kembali di dalam kepala Eichi kala kesehatan tubuhnya mulai menurun. Ia sangat mencintai peran seorang penghibur, dan kenangan itu seakan membawanya kembali pada tujuannya—kenapa ia berdiri di tempat ini sekarang— sebagai pendiri agensi Star Production dan seorang idol dari sebuah unit nan anggun: fine. Ia tidak ingin mati sekarang. Setidaknya belum sekarang .

Karena itulah Eichi tahu apa yang akan terjadi begitu ia terbangun dengan keadaan kepalanya yang terasa seperti dihantam palu berkali-kali setelah ia memimpikan kejadian itu lagi setelah sekian lama.

Tidak.

Rasa dingin mulai memberati perut Eichi. Jangan sekarang .

Sudah empat bulan penuh Eichi sehat walafiat. Ia tahu suatu saat pasti kondisinya akan menurun kembali. Ia tahu itu. Ia sadar bahwa ia tidak akan pernah sembuh, ia hanya akan membaik dalam beberapa waktu.

Namun dengan keadaan Ensemble Square yang saat ini tengah sibuk dikarenakan unit-unit mereka yang mulai naik daun, Eichi tidak bisa tinggal diam dan mengabaikan kerjanya selaku kepala pimpinan Star Production, sebuah agensi muda yang dengan cepatnya melesat mencetak berbagai unit menarik yang saat ini sedang jadi bincangan hangat media sosial. Star Production baru saja melebarkan sayapnya dan hendak terbang tinggi. Tentunya perlu pengawasan penuh dari Eichi. Ia dipercaya sebagai pimpinan yang bisa diandalkan dan lihai menyusun strategi. Walaupun terkadang apa yang ia rencanakan terdengar licik, namun dunia industri hiburan jauh lebih kejam dari itu dalam menampakkan taringnya dari kegelapan.

Eichi memutuskan ia harus tetap pergi menuju Ensemble Square selama kakinya masih bisa melangkah. Ia bukan tipe orang yang mengabaikan kesehatannya begitu saja, ia hidup dengan keadaan sakit-sakitan dan fakta itu sendiri sudah cukup membuat Eichi berhati-hati. Lagipula ia tidak merasakan sakit di area manapun selain kepalanya. Masih bisa ia tahan.

Ia menurunkan kedua kakinya dari kasur kemudian mencoba berdiri. Setidaknya pandangannya juga masih baik-baik saja.

Pagi itu Eichi berangkat menuju Ensemble Square setelah memastikan ia sarapan yang cukup dan telah mengompres kepalanya sebentar dengan kain berbasuh air hangat, cukup meredam sedikit denyutan pada kepalanya.

 

---

 

Sakit kepalanya bertambah parah.

Harusnya ia tahu hal itu akan terjadi.

Saat ia tengah merapihkan dokumen yang harus ia selesaikan, kertas-kertas itu tanpa ia sadari telah berhamburan di lantai. Telinganya berdenging keras. Ia baru menyadari apa yang ia lakukan begitu kepalanya menunduk, melihat lantai dipenuhi warna putih. Butuh beberapa waktu baginya untuk menyadari bahwa warna putih yang menyelimuti kakinya bukanlah salju , melainkan kertas yang berhamburan. Tentu saja itu adalah dokumen yang beberapa detik tadi baru saja ia genggam.

Kau sudah gila, Eichi. Ia kemudian menunduk dan menyadari pandangannya mulai mengabur. Kemudian ia terduduk di lantai sembari merapihkan kekacauan yang ia buat. Tangannya terasa begitu lambat. Rasa frustasi mencekat tenggorokan Eichi. Ia merasa begitu menyedihkan saat kelemahan yang coba ia lupakan menampakkan dirinya tanpa tahu malu seperti ini. Ia muak sekali.

Sekelibat untaian sewarna biru langit memasuki pandangannya. Cantik sekali . Pikir Eichi. Siapapun yang memiliki rambut indah itu pasti dianugerahi wajah yang begitu anggun.

"Tidak biasanya pagi-pagi begini Yang Mulia membuat kekacauan."

Sepasang tangan dengan jemari cekatan membantu Eichi mengumpulkan dokumen yang berserakan. Tak salah lagi pemilik suara itu adalah seorang Hibiki Wataru. Eichi tak mampu menyembunyikan senyumannya.

"Terima kasih, Wataru." Kemudian kedua lebgan Wataru menuntun Eichi berdiri setelah berkas berserakan miliknya berhasil ia amankan. Eichi mampu merqsakan tatapan Wataru menusuknya, ia yakin pria magis itu tahu apa yang sebenarnya sedang berusaha ia sembunyikan sekarang walaupun kelihatannya ia lebih memilih untuk menutup mulutnya untuk saat ini.

"Tidak ada orang lain di kantor pagi ini?"

"Sebentar lagi seharusnya mereka datang. Aku hanya datang terlalu pagi."

"Ah, seperti yang diharapkan dari seorang Yang Mulia." Wataru mengempas tubuhnya sendiri menuju sebuah kursi di seberang meja Eichi. Ia menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Dengan senang hati aku bersedia menemanimu sebelum seseorang datang."

Eichi tersenyum kecil. Dengan keadaanmu yang terlihat kurang meyakinkan saat ini, akan lebih baik kalau ada seseorang yang bisa mengawasimu. Itulah yang sebenarnya Wataru katakan.

"Kebaikan yang datang darimu selalu membuatku tersanjung." Eichi membuka tutup pulpennya lalu mulai berkutat dengan berkas yang perlu ia tanda tangani. "Tampaknya Sang Pesulap pagi ini kekurangan penonton?"

"Oh!" Tawa Wataru menggelegar. "Satu-satunya penonton favoritku sedang berada di hadapanku, untuk apa aku bersusah payah mencari yang lain?"

Senyum Eichi tak kunjung luput dari wajahnya. "Kau selalu pandai merangkai kata-kata. Hal yang sudah sewajarnya diharapkan dari seorang pelakon profesional."

Wataru selalu berbuat baik padanya. Seseorang yang tak akan pernah habis ia kagumi. Walaupun Perang beberapa tahun silam menjadikan Wataru sebagai seorang penjahat dan Eichi sebagai pembela kebenaran, Wataru dengan senang hati menjalani permainan itu. Mereka berdua berhasil menjadikan SMA Yumenosaki tempat berdarah-darah di mana orang-orang tak bersalah tersingkirkan, kejayaan dimonopoli, dan harapan-harapan dipupuskan. Eichi tidak mengerti kenapa pria itu tidak membencinya. Atau mungkin sebenarnya Wataru membencinya dan menunggu sampai saat yang tepat di mana ia mampu mencampakkan Eichi dalam panggung yang lebih dramatis dan ramai penonton.

Untuk seseorang yang dinodai dosa pekat seperti dirinya, Eichi tahu ia tidak berhak mendapatkan afeksi tulus dari siapapun. Ia hanya akan menunggu sampai Wataru menyibak tirai dan mendeklarasikan kemenangannya. Eichi tahu Wataru akan menang kali ini. Ia tidak bisa menghindari rasa sakit pada dadanya kala memikirkan itu.

Pulpen dalam genggaman Eichi bergetar. Atau tangannya yang bergetar? Ia tidak tahu. Matanya terasa berdenyut nyeri dan paragraf di hadapannya mulai mengabur. Wataru pada akhirnya akan mengkhianatinya. Ia tahu itu.

"Eichi?"

Kenapa Sang Pesulap tiba-tiba melepaskan peran yang biasa mereka mainkan setiap hari?  Kenapa ia memanggil Eichi dengan nama aslinya? Eichi tidak tahu. Ia hanya bisa merasakan nyawanya yang semakin menjauh dari tempat ia berpijak. Kesadarannya mengawang bagai di atas awan-awan. Ia berharap kenyataan bahwa Hibiki Wataru akan mengkhianatinya sebenarnya hanyalah kebohongan, bahwa karakter Hibiki Wataru yang sekarang ia lihat hanyalah ilusi.

"Kau." Wataru mengambil pulpen dari genggaman Eichi. "Kenapa kau masih bekerja?"

"Apa?"

Wataru diam. Ia menatap Eichi dengan ekspresi yang sangat sulit ia tebak. Apa respons yang Wataru inginkan darinya? Kenapa seketika Wataru seakan berimprovisasi dan mengajak Eichi berdrama tanpa naskah?

Eichi menarik napas, "tidak, aku tidak apa-apa."

Wataru menaikkan alisnya.

"Kerjaanku masih banyak. Tentu saja aku masih bekerja."

Mendengar argumentasi Eichi, Wataru meletakkan pulpen yang ia sedari genggam menuju meja dengan kekuatan hentakan lebih dari yang seharusnya ia lakukan. "Bisa kau lanjutkan lain kali. Apa perlu kupanggil Tori ke sini?"

"Kenapa kau merasa perlu memanggil Tori ke sini?" Alis Eichi berkerut. Antara ia mencoba memfokuskan pandangannya atau mencari sisi masuk akal dari ucapan Wataru. Apa lagi yang pria ini inginkan? "Kau tahu kan kita punya banyak hal yang harus diurus sebelum debut The Tempest? Apa lagi rencanamu kali ini?"

"Sssh..." Telunjuk Wataru merapatkan bibir Eichi. "Aku hanya sedang mengancam. Bukankah lebih baik korban menurut saat mendengar ancaman dari penjahat?"

Ya, kaulah penjahatnya di sini. Batin Eichi. Kau sudah sadar dari awal. Tapi rasanya aku terlalu masokis untuk mengakui sepenuhnya bahwa aku menyadarinya.

"Aku tidak punya waktu untuk bermain-main, Wataru." Desis Eichi.

Sang Pesulap tersenyum, "Oh ya, tentu saja orang penting sepertimu—seorang konglomerat Tenshouin—tidak punya waktu barang sejenak untuk mengistirahatkan tubuhnya. Tetapi untuk kali ini, aku mohon."

Eichi berdiri dari duduknya, tidak terima merasa dipermainkan. Ia tidak tahu apa yang Wataru maksud. Ia baik-baik saja? Daritadi ia masih menyapa dan menjalani percakapan normal yang biasa ia lakukan dengan Wataru? Eichi merasa sangat lelah. Lelah . Tanpa alasan yang jelas begitu ia dihadapkan dengan situasi yang tidak terduga untuk seorang ahli perencana sepertinya. Wataru adalah sebuah anomali. Eichi hanya ingin bermain salju.

Kapan ia terakhir kali bermain salju? Astaga, bahkan ia tidak ingat. Betapa samar sebuah kenangan berputar di dalam kepalanya, kala ia menggunakan sarung tangan tebal dan syal rajut, membangun boneka salju sembari tertawa dan membayangkan bagaimana jika suatu saat boneka salju yang ia buat dapat menjadi temannya—karena Eichi selalu kesepian. Sebelum ia harus berpisah dengan teman yang baru saja ia buat, bahkan sebelum temannya bernyawa, dengan keadaan ia yang harus kembali mempertaruhkan nyawanya dalam petak kecil kamar rumah sakit. Sepi. Sepi sekali.

Eichi tidak pernah tahu kapan ia harus istirahat. Segalanya belum cukup. Ia tidak pernah bisa menggapai apapun yang ia inginkan sedari kecil. Bahkan sekecil mendapatkan boneka salju sebagai teman ia bermain. Ia tidak ingin waktunya terbuang sia-sia. Sekarang ia memiliki banyak impian yang bisa ia kejar selain mengamati dan merasakan dinginnya bulir salju. Walaupun hingga detik ini merasakan rasa dingin lembut yang menggerayangi tangannya tetap merupakan impian yang diam-diam masih ia simpan dalam sisi kanak-kanaknya yang masih tersisa.

"Eichi. Hei, Eichi!"

Ia tidak sadar kakinya sudah tidak lagi berpijak pada lantai. Sepatunya tak lagi bertumpu pada karpet beledu merah favortinya, yang sengaja ia letakkan di ruang kerjanya. Karpet yang warnanya sama dengan ruang makan di rumahnya. Sebuah ruangan yang selalu menjadi pertanda kesehatan Eichi yang mulai membaik karena ia akhirnya bisa makan di tempat ia seharusnya makan, bukan di kamarnya. Walaupun sepinya meja makan seringkali tak terhindarkan, setidaknya pada momen itu ia merasa sehat, ia merasa dapat menikmati hidangan apapun yang disajikan oleh koki rumahnya. Eichi tidak mengerti kenapa saat ini kakinya tidak mau menapak pada alas merah yang amat ia senangi.

"Eichi, kau dengar aku?"

Eichi sangat merindukan kebebasan itu. Perasaan senang saat menyeruput sup hangat sembari menatap salju yang mengetuk pelan jendela, mengajaknya bermain dan membuat boneka salju. Jarang sekali Eichi merasakan ketenangan itu, seakan ia ingin waktu terhenti dan ia hidup abadi di dalamnya.

"Seseorang, tolong panggilkan ambulans."

Di ambang kesadarannya, samar Eichi melihat untaian biru menelusup pandangnya tanpa permisi.

Notes:

Yak tunggu aja kelanjutannya